Rabu, 23 Maret 2011

PINTU-PINTU TAK TERDUGA

PINTU-PINTU TAK TERDUGA
Di akhir tulisan yang lalu, saya mengutip sebuah ayat Al Qur’an yang berbunyi, “MAN YATTAQIL LLAHA YAJ’AL LAHU MAKHROJA WA YARZUQHU MIN KHAITSU LAA YAKHTASIB”. Artinya, barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka ia akan dibukakan rezeki dari pintu yang tidak terduga. Sepintas lalu ayat ini terkesan “normatif” layaknya ayat-ayat lain dalam Al Qur’an yang berisi baik dan buruk, pahala dan dosa, surga dan neraka. Namun jika dikaji lebih dalam makna yang tersirat terasa begitu indah dan membumi.
Lebih enaknya kajian mengenai ayat tersebut dilokalisir sebatas pengetahuan dan pengalaman hidup penulis saja. Harap maklum penulis kan masih muallaf, ntar di kira ndakik tur narsis. “cek wani wanie nafsirno Qur’an wes bener ah kelakuane?”. Tapi tidak apa-apa. Kata kanjeng nabi innamal a’malu bin niat. Apapun amalan atau tindakan tergantung niat. Ini saja yang saya jadikan dasar. Bukankah ucapan rasulullah tersebut merupakan landasan kedua –setelah Al Qur’an- dalam hirarki pengambilan hukum islam?.
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita mendapati apa yang diinginkan tidak sesuai dengan kenyataan. Berbagai usaha guna mendukung tercapainya keinginan tersebut mentah di tengah jalan. Anak yang seharusnya lulus dengan prediket terbaik dan masuk disekolah unggulan ternyata Cuma diterima disekolah yang notabenenya biasa saja. Pekerjaan kantor yang segara di bereskan dengan harapan mendapat proyek baru ndilalah..jauh panggang daripada api. Dagangan yang telah kita tata dgn rapi tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
Seorang ibu rumah tangga mengeluhkan gaji/pendapatan suaminya yang dinilai terlalu kecil buat belanja seluruh keluarga. Giliran gaji atau pendapatan sang suami meningkat, keluhan si ibu ini tetap sama. Lho kok… Anak muda sering pulang malam katanya di rumah boring –padahal seperangkat home theater plus game video sudah menunggunya dirumah. Banyak orangtua yang mengeluhkan anak-anaknya sulit diatur.
Dalam sambutan ketua RT (cieh..jangan main-main lho iki ketua rt), saya pernah menyampaikan pada warga, keterhimpitan, kesulitan dan kebingungan dalam menjalani kehidupan sehari-hari mungkin dikarenakan kurangnya kita mengambil peran yang lebih besar dari sekedar peran kita pada diri dan keluarga. Asal tahu saja ya… bisa menjadi ketua rt bukan lantaran saya adalah pribadi yang kapabel dan acceptable sehingga dicintai warga. Bukan…ini semata warga tidak ada yang mau alias emoh jadilah saya yg menjadi wadal.
Seringkali kita asik dengan peran/urusan kita sendiri. Sehingga melupakan peranan kita yang lebih besar. Padahal Peran yang lebih besar ini pada gilirannya akan membawa kita pada pribadi yang peduli. Tidak hanya peduli pada diri dan keluarga melainkan juga pada kondisi, keadaan dan juga pada sesama. Saling tolong-menolonglah kamu diantara sesama niscaya Aku (Allah) akan menolongmu. Lebih lanjut, -saya jadi teringat- dawuh Almagfirullah KH. Asrory Al Ishaqi, “Asal taqwa dari Al waro’(menjaga diri). Asal waro’ dari introspeksi diri”. Subhanallah….
Kita tahu arti harfiah taqwa adalah takut. Takut dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya. Cara menjalankan perintah ini wujudnya macam-macam tidak terbatas pada ritual ibadah mahdzoh/ubudiyah semata, lebih dari itu kesalehan social wajib dilaksanakan. Hablum minallah wa hablum min annaas. Jika ini sudah dikerjakan maka ia akan menjelma menjadi pribadi yang tahu diri dan bisa menjaga diri (al waro’). Pada ujungnya, setiap peristiwa maupun kondisi yang datang menghampiri kita bisa mawas dan introspeksi diri. Tidak gampang menimpakan kesalahan pada orang lain. Jangan-jangan kesalahan itu buah dari yang kita tanam. Aduh..isin rek kok dadi mekitik tulisan iki….
Alam pikiran kita seringkali stereotip dalam memandang sesuatu yang haq sekalipun. Sebagai contoh, kita disuruh mengasihi anak yatim. Barang siapa yang mau menyantuni anak yatim maka ia akan dibukakan rezeki seluas2nya. Sekedar info, saya pernah mengadopsi anak yatim piatu –masih keponakan sih- tapi sebentar. Alasannya, sianak tidak kerasan atau saya yang kurang sabar, entahlah. Genap satu tahun sianak saya kembalikan pada mbahnya –ya mertua sendiri sih. Banyak yang mempertanyakan sikap saya tersebut. Beberapa diantaranya menyayangkan, padahal jika saya mau sedikit bersabar maka rezeki yang saya terima akan melimpah ruah, begitu menurut mereka. Giliran pernyataan itu saya kembalikan pada mereka, buru-buru menjawab, “aduh..ngurusi anakku dewe ae ngelu opo mane tambah”.
Tanpa mengurangi kebenaran sabda rasulullah tersebut, akan sangat keliru jika upaya kita mengasihi sesame –terutama- anak yatim semata demi keuntungan pribadi. Hal ini sama saja menjadikan yang dikasihi tersebut menjadi “korban atau wadal” demi kemakmuran diri pribadi. Islam tidak mengajarkan seperti itu. Islam adalah rahmatal lil alamiin. Rahmat bagi kita adalah rahmat untuk semua. Logikanya bila kita jujur dan konsekwen menerapkan sabda junjungan kita, justru pada saat sulit kita mesti berbagi, dengan harapan Allah akan melonggarkan kehidupan kita. Jika tindakan saya itu salah biarlah kelak Allah yang akan menghisab. (rodok wedi iki…)
Terakhir, kegetiran dan kepahitan serta harapan yang jauh dari nyata adalah sekelumit dari fakta hidup yang terus berputar. Ia akan datang dan pergi. Terus berperan ambil yang besar –jika mampu. Laksanakan ubudiyah sambil tetap menjaga kesalehan hidup bersosial. Barangkali inilah yang akan mempertemukan kita dengan “pintu-pintu yang tak terduga” alias blessing in disguise. Percayalah!!! Sebagai seorang pedagang –yang tidak ada jaminan diakhir atau awal bulan akan menerima gaji- seringkali saya mendapatkan rahmat yang tak terduga ini. WASSALAM, junior 23 maret 2011. Jangan lupa selalu kunjungi merinagold.blogspot.com.

2 komentar:

  1. "Asal tahu saja ya… bisa menjadi ketua rt bukan lantaran saya adalah pribadi yang kapabel dan acceptable sehingga dicintai warga. Bukan…ini semata warga tidak ada yang mau alias emoh jadilah saya yg menjadi wadal."

    Hahaha...baru tahu ini.

    BalasHapus
  2. faktanya mmg dmkian, bro... jangan diguyu ah jadi malu...

    BalasHapus

silahkan beri komentar