DOA KAYA : BEKERJA KERAS. DOA PINTAR : BELAJAR.
Tadi malam saya kedatangan tamu. Seorang teman yang sudah lama tidak bersua. Bukan teman jauh hanya tetangga desa. Tapi pertemuan kali ini memberi kesan yang mendalam. Mungkin dikarenakan intensitas pertemuan kami yang jarang, sehingga ada perasaan rindu yang saling menggelayuti atau topik pembicaraan kami dimalam itu yang memang mengasyikan.
Teman ini datang ke rumah tepat disaat azan isa’ berkumandang. Ia muncul didepan pintu dengan sosoknya yang tambun sambil mesam-mesem persis seperti orang yang mau minta derma. Setelah duduk ia utarakan maksud dan kedatangannya kerumah. Disampaikan minatnya agar masjid yang ada di perumahan kami bersedia ditempati acara Dzikrul Ghofiliin –suatu ritual dzikir- yang ia aktif terlibat didalamnya. Kontan saja ia saya ajak ke pengurus takmir masjid sekaligus menemui ketua rw selaku penanggung jawab masjid.
Selesai urusan, saya dijamu makan disebuah warung yang mirip gerbong kereta api. Tiga godo tempe langsung saya lahap, -maklum sejak sore belum makan- sebagai hidangan pembuka. Tepat pukul setengah sebelas malam, setelah semua makanan sudah ludes kami sikat, saya diajak kerumahnya. Dari jarak puluhan meter sudah terpampang jelas sebuah bangunan besar dan mewah. Saya sempat bergumam dalam hati, “kok cek dak pantese yo pemiliknya model gembolo2 ngono omae yo mentereng”. Namun buru-buru saya tepis, dengan logika yang rasional. Seseorang dengan kinerja dan pola pikir seperti temanku ini, sangat masuk akal dan wajar bila bisa mencapai semua itu.
Ia ceritakan, rumah yang ditempati beserta keluarganya tersebut adalah sebuah “gift atau hadiah”. Ia tidak berambisi membangun sebagus itu. Bahkan pada saat seorang arsitek menyodorkan desain bagan rumah, teman ini menyatakan tidak memiliki dana untuk merealisasikannya. Ia hanya mempersilahkan sang arsitek memulai tugasnya dan membiarkan waktu yang akan menjawabnya. Sepintas lucu juga wak kaji yang satu ini, ia mengatakan tidak mempunyai duit, waktu akan membangun rumah. Tapi nyatanya, pembangunan rumah tersebut bisa rampung tanpa kendala yang berarti. Itulah mengapa ia menyebut rumah yang dihuninya sebagai sebuah hadiah. “saya mencoba mengekang setiap keinginan. Saya hanya menjalani kecenderungan-kecenderungan, sama seperti air.” begitu ia tuturkan memulai perbincangan kami dimalam itu.
Omongan seperti ini yang saya suka dari dia. Seringkali ia berbicara dengan gaya filosofis seakan ingin merangkum pengalaman hidupnya menjadi sebuah kalimat indah. Namun tutur bahasa yang ia kemukakan banyak yang belepotan yang tidak jarang pendengar malah bingung dibuatnya. Alih-alih ingin terlihat intelek malah yang tampak in TELEK!!!. Haha…. Ojo moreng-moreng yo ji.
Hal ini mudah dimaklumi mengingat kawan ini bukanlah seseorang dengan latar belakang intelek dengan segudang prestasi akademik. Ia hanya seorang biasa yang mau belajar dan bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya. Tak heran ketika ia berbicara dengan bahasa nasional negaranya, acapkali gagap dan canggung. Namun sesungguhnya makna yang tersirat dalam ucapanya benar-benar luar buasa. Ini yang membuat saya sering rindu dan senang tatkala bercengkerama dengannya –meski begadang menjelang subuh, seperti malam itu.
Banyak ungkapan filosofis -terkadang juga absurd- keluar dari mulut kawan tercinta ini. Barangkali ia ingin mengintisarikan lalu mengomunikasikan pengalaman hidup yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang mandiri, kukuh dalam bersikap dan percaya diri dalam bertindak. Paling tidak ini bisa dilihat tatkala ia mengatakan DOA KAYA adalah KERJA KERAS. DOA PINTAR atau CERDAS adalah BELAJAR.
Seseorang yang ingin hidupnya bekecukupan (baca: kaya) haruslah bekerja keras, banting tulang demi memujudkan keinginannya tersebut. Jangan melulu membanggakan atau mencela kesuksesan seseorang. NATO : no action talk only hanya isapan jempol belaka. Kunci dasar dalam setiap usaha adalah lakukanlah (just do it) niscaya berbuah hasil (duit).
Dalam salah satu tayangan talk show kick andy, Dahlan Iskan pernah ditanya sang presenter mengenai penyebab penyakit yang membuat CEO grup Jawa Pos itu ganti hati adalah dikarenakan dimasa mudanya, ia terlalu bekerja keras. Sehingga kerja keras yang dilakoninya selama puluhan tahun tersebut menggerogoti hati –sampai sirosis-tanpa ia sadari. Bos PLN ini menjelaskan, penyebab penyakitnya bukan kerja keras, melainkan KEMISKINAN. Kemiskinan yang menderanya dimasa kecil inilah yang membuat keluarganya tidak mampu cublik atau imunisasi hingga virus hepatitis B menyerang hatinya. Ia menolak anggapan orang bahwa kerja keras menjadi factor penyebab penyakit. Justru kerja keras tetap ia lakoni sampai sakarang –bahkan setelah menjalani transplantasi hati dan menjadi Dirut PLN.
Seorang yang ingin pintar dan cerdas haruslah bersedia belajar. Dengan belajar orang yang asalnya tidak tahu menjadi tahu. Yang tadinya tidak mengerti menjadi mengerti. Dengan tahu dan mengerti muncul sikap yang mandiri. Ia menjadi faham, bisa memilah dan memilih apa yang terbaik bagi dirinya. Tidak gampang menciptakan blunder, tidak susah mencari jalan keluar. Setelah kesadaran akan diri terealisasi, muncul sikap yang tegas. Kukuh berpendirian, tidak mudah diombang-ambingkan oleh sesuatu yang menyesatkan. Pada gilirannya ia akan menjadi pribadi yang percaya diri. Hati dan kaki menghunjam ke bumi akal pikiran melesat keangkasa. Tidak takut jatuh, tidak minder bila gagal, tidak bosan mencoba dan bangkit. Halangan, rintangan, risiko dan hambatan adalah hal lumrah yang selalu menyertai dalam setiap perjalanan.
Inilah DOA. Hakekat dari doa adalah perbuatan bukan ucapan semata. Terima kasih teman. Terima kasih atas waktu yang diberikan. Dan terima kasih untuk tetap menjadi SAHABAT. (mbrebes mili isun nulis kalimat seng terakhir iki). WASSALAM, junior 31 maret 2011. Tetap ikuti www.merinagold.blogspot.com.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Like this as usual....
BalasHapusLuar biasa, beliau memang sosok yang teladan Pak, saya banyak menyerap pengetahuan yang bermanfaat darinya. Pertemuan yang singkat namun sangat mencerahkan (meskipun beliau menolak mentah2 dikatakan telah mencerahkan saya...hehehe)
Setiap manusia punya gaya tersendiri dalam menyingkapi hidup ini...terkadang seperti air mengalir begitu saja (ini bisa jadi karena garis hidupnya memang seperti itu blueprintnya)cenderung mulus-mulus saja, ada juga yang seperti gelombang air kadang tinggi kadang rendah ini pun sudah pasti blueprintnya seperti itu dari Sang Super Arsitek....bagaimana golongan yang kedua ini menyingkapinya? sudah tentu Doa dan usaha saja tidak cukup, terlalu banyak faktor dalam hidup ini, seperti yang telah dijabarkan dalam artikel sebelumnya yang berjudul "Proses".Hidup ini menurut saya terlalu kompleks untuk di jabarkan, padahal sesungguhnya bisa sangat sederhana, tinggal menjalaninya dan pasrah.Menjalaninya dengan sebaik2nya manusia dan seharusnya, baru kemudian memasrahkan kepadaNya. Karena hidup ini sejatinya hanyalah "proses", sesimpel itukah? Ya, setidaknya itu yang terlintas dalam benakku saat ini. Ketika sesuatu hal terjadi, baik pada diriku maupun oranglain. saya menanggapinya santai saja, karena hal itu kan sudah ada "garis"nya. Beritahu saya jika ada cara untuk mengubah garis tersebut.....
CMIIW : Correct Me If I'm Wrong
hehhe... anda sudah faham rupanya. mau dsijawab apanya? commwent ansda susda lwebih sdari xcukup. trims. jalanin aja....
BalasHapusAh jangan gitu Gan....saya masih setia menunggu wejangan dari Njenengan. Kalau sudah paham maka akan bisa menutup pintu2 khazanah pemahaman yang lain....Keep posting, i'm waiting the new one
BalasHapuscoba aja dilihat tampilan blognya. lebih kerenkan?
BalasHapus