TOMAT (tobat maksiat)
Judul diatas sengaja saya tulis sama seperti judul lagunya grup musik WALI. Lirik lagu yang berisi pesan moral untuk segera beristigfar setiap kali kita melakukan maksiat atau kesalahan. Pendeknya, kita harus segera bertobat meminta ampunan kepada Allah swt dengan tidak mengulangi perbuatan serupa.
Dalam keseharian kita seringkali melakukan perbuatan maksiat atau dosa. Bentuknya beraneka macam –tidak usah disebutkan wes podo ngerti kabe. Baik dosa kecil maupun dosa besar. Baik yang disengaja maupun tidak. Dosa kecil pertobatannya bisa “cukup” dengan beristighfar. Sedang dosa besar pertobatannya harus melalui apa yang dinamakan TAUBATAN NASHUUKHA. Tobat yang sungguh-sungguh dilakukan mengaharap ampunan dariNya serta bertekad tidak mengulangi perbuatan yang sama.
Barangkali ini adalah salah satu rahasia dari RAHMATAL LIL ‘ALAMIIN yang diberikan Allah kepada umat islam. Bisa dibayangkan, berapa kali dosa, berapa kali maksiat yang sifatnya kecil –namun intens- kita lakukan, pertobatannya harus melalui jalan yang terjal dan berliku, tentunya hidup kita akan habis hanya untuk menyesali dosa2 kecil yang telah kita perbuat. Padahal dosa kecil ini layaknya sego sambel tiap hari kita lahap.
Dosa besar, untuk gampangnya saya kompres saja menjadi MOLIMO = main (judi), madat (ngedrug/narkoba), madon (zina), maten (membunuh) dan maling (mencuri/merampok). Saya mengategorikan lima perbuatan ini sebagai perbuatan dosa besar. Syirik atau menyekutukan Allah tidak termasuk didalamnya. Justru syirik ini saya anggap sebagai mbahe dosa besar karena mengingkari eksistensi dari sang maha besar. Terus terang saya tidak berani menulis atau membahas masalah syirik, dikarenakan perbuatan ini bukan wilayah perilaku semata melainkan lebih pada wilayah hati seseorang. Hanya Allah yang bisa menjudge seseorang itu melakukan syirik atau tidak. Kita sebagai manusia hanya bisa khusnud dzon saja.
Berbeda dengan dosa kecil, dosa besar pertobatannya tidaklah mudah. Penuh jalan yang berliku, tidak jarang terjal dan mendaki bahkan klaim akan tetap melekat meski sudah sampai pada tahapan tobat nasukha. Hal ini wajar mengingat, ekses atau implikasi dari molimo ini sangat luar biasa baik pada diri maupun orang lain.
Adalah Kenshin Himura. Seorang ksatria yang lahir di era Bakufu jaman Shogun Tokugawa berkuasa. Ia adalah agen rahasia yang direkrut oleh pihak oposisi guna melancarkan gerakan yang dinamakan Restorasi Meiji. Tugas utamanya adalah membunuh dan membantai para samurai pengawal Shogun Tokugawa. Tidak terhitung berapa nyawa yang melayang oleh sabetan pedang nya. Gerakan Tenken dan Amakakeru Ryoshuishen adalah mimpi buruk bagi lawan-lawannya. Sekali tebas dua tiga tubuh roboh tak bernyawa. Dialah Battosai sang penyayat.
Ketika restorasi Meiji merebak, keberadaan battosai seperti hilang ditelan bumi. Ia tiba-tiba muncul di pemukiman yang tenang disebuah dojo yang dimiliki wanita bernama Kouru. Kelak, pertemuannya dengan kouru ini mengubah jalan kehidupan sang samurai. Dari jalan pedang yang membunuh menjadi pedang yang melindungi. Dari amakakeru yang merupakan mimpi buruk lawan2nya, berubah menjadi mimpi indah orang orang disekitarnya. Dari samurai yang menyayat menjadi sakabato yang menyadarkan.
Pencerahan yang telah dialami oleh Kenshin HImura ini tidak lantas membuatnya menjadi pribadi yang lemah, cengeng dan melankolis. Pertempuran demi pertempuran tetap ia jalani terutama dari pihak yang yang ingin menuntut balas. Hebatnya, pertempuran2 tersebut dapat ia menangi dengan tanpa membunuh seperti yang telah disumpahkan. Bahkan, lawan2nya menjadi sadar dan tidak sedikit yang akhirnya berteman dengannya. Istilah jowoe menang tanpo ngasoroake.
Tokoh diatas hanyalah fiksi meski settingnya fakta. Banyak pelajaran berharga yang bisa saya petik dari tokoh komik jepang ini. Saking gandrungnya tiga tripleks ukuran jumbo berlukiskan sang tokoh saya tempel didinding rumah sebagai hiasan.
Jujur, saya pernah terjerembab dan terperosok sangat dalam perilaku buruk. Perilaku yang saya kategorikan sebagai dosa besar ini tidak saja meluluhlantakkan sendi perekonomian keluarga, lebih jauh juga telah memporakporandakan bangunan moral dan dedikasi yang telah ditanamkan sejak kecil. Perilaku yang berawal dari rasa pongah dan euphoria atas nikmat yang telah diberikan. Banyak teman yang memperingatkan –kala itu- resiko dari perbuatan tersebut. Tapi namanya orang tuli, buta mata hatinya saran dan kritikan itu hanya mampir lewat telingah kiri keluar telingah kanan. Mereka akhirnya menyerah, sambil menunggu detik2 kehancuran. Benar, genap satu tahun perbuatan itu saya lakoni, bangunan ekonomi yang saya rintis dengan susah payah itu ambruk berkeping-keping.
Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan kemudian tak berguna. Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari yang menyedihkan. Sedih karena semua telah habis, habis karena untuk urusan madhorot semata. Seorang teman bilang, saya sedang di res pengeran, seperti anak sekolahan yang dihukum karena melakukan kesalahan. Hanya pertolongan Allah semata saya bisa survive dan bangkit bahkan mendapat lebih dari yang dulu. Lewat tangan juragan yang sama saya masih diberi kesempatan. Bos ini berpesan agar saya berhati-hati dalam bekerja dan segera meninggalkan perilaku2 yang tidak berguna. Sampai disini, terngiang dibenak saya akan kebaikan dan jiwa besar seorang bos. Andai waktu itu saya tidak mendapat second wind, tentulah sekarang saya sudah kalungan omplong, jalan riwa-riwi keliling kampong.
Ada titik tolak dalam setiap perjalanan hidup manusia. Kesempatan kedua yang telah diberikan kepada saya adalah berkah yang besar. Saya tidak ingin menyiakannya. Meski berat, ini adalah jalan yang harus dilalui. Setelah semua terlampui, barulah sadar dan mengerti bahwa rejeki (untuk episode selanjutnya saya akan menulis mengenai konsep rejeki ini) adalah amanah yang harus diemban dengan sebaik-baiknya. Tidak sepantasnya orang menjadi pongah dan terlena dibuatnya. Saking “takutnya” terhadap rejeki yang berupa harta ini, sampai-sampai dalam doa yang dipanjatkan, saya ingin hidup dalan keadaan PAS-PASan. Pas bayar sekolah anak pas ada. Pas ingin rekreasi pas bisa. Pas bayar tunggakan pas terbayar. Pas ngopi dan nyangkruk pas lapang waktu. ILAHII… ANTA MAKSUDI WA RIDHOO KA MATHLUUBI A’THINII MAHABBATA KA WA MAKRIFATA KA…
WASSALAM, junior 3 April 2011. Selalu kunjungi www.merinagold.blogspot.com.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Alhamdulillah....selalu ada hikmah di balik musibah....bagi orang-orang yang berfikir :) .
BalasHapusamien...trims
BalasHapus