REZEKI
Saya punya kenalan langganan. Orangnya baik, kaya lagi. Toko emasnya ada enam seperti anggota keluarga kenalan saya tersebut. Usahanya lancar dari retail penjualan perhiasan emas sampai tengkulak sayur mayur. Dari pengembang property perumahan dan travel sampai jual beli mobil bekas. Khusus yang terakhir penulis pernah membeli salah satu mobil dagangannya dengan cara barter perhiasan emas.
Semua usaha dijalani sehingga ia bisa seperti sekarang ini.Dalam keseharian, ia termasuk pribadi yang bersahaja. Tidak tampak dalam dirinya sifat angkuh dan sombong atas apa yang telah di capai. Celana hitam kaos oblong –kadangkala- hem putih adalah ciri khas penampilannya setiap kali pergi ke pasar. Sudah belasan tahun saya berbisnis dengannya. Sampai pada suatu pagi tatkala ia seperti biasa membuka toko, ia mengeluhkan sebagian tubuhnya tidak bisa digerakkan. Dokter bilang abah ini mengalami stroke ringan. Selang beberapa hari kemudian beliau dipanggil ke Rahmatullah. Innalillahi wa inna ialihi Raajiuun… Selamat jalan abah semoga amal ibadahmu diterima Allah Swt.
Dalam rangkaian bisnis di Madura, bos langganan pernah memberikan “wejangan” kepada saya. Dia bilang, “sekali tempo dalam hidup ini perlu lah kita kawin lagi”. Lho… ??? tidak ada petir tidak ada hujan kok tiba-tiba pak haji ini bilang begitu. Terperanjat saya di buatnya. “cekcok sama isteri, piring-piring beterbangan itu hal lumrah dalam rumah tangga, justru itu yang akan mempererat hubungan antar pasutri”. Katanya lagi. Tambah gak mudeng saya dibikinnya. Untuk sementara saya pending dulu urusan kerja, saya penasaran dengan ucapannya dan ingin tahu apa yang ingin dikatakan sebenarnya.
“saya punya teman, Mas Zamroni” lanjutnya, “orangnya kaya mobilnya banyak rumahnya besar dan bagus-bagus. Tiap hari kerja dan kerja seakan-akan tiada hari tanpa mengumpulkan harta. Giliran dia sadar harta yang di cari sudah melimpah, maut menjemput. Mati “. Katanya dengan mengangkat bahu dan kedua tangannya. Sampai disini saya mulai faham. Ketika bos Madura ini mengatakan perlunya kawin lagi, sempat terpikir jangan-jangan ia menganggap saya adalah anggota ISTI (ikatan suami takut istri). Harap maklum, diiawal pernikahan, kemana-mana saya selalu mengajak istri dalam urusan kerja. Bukan tanpa alasan, mumpung belum ada momongan sekalian saja bulan madu. Itung2 transportnya gratis pulang disangoni. Sekali tepuk 2-3 nyamuk mati tangan jembret oleh darah hehehe….
Ketika saya datang ke tokonya sendirian, pak haji ini selalu bertanya kenapa istri tidak diajak. “sekarang tampaknya sudah dapat mandat,ya?” selerohnya. Sayapun tertawa sekalian saja saya jawab, istri dirumah sudah sangat percaya betul ,saya tidak bakalan nggiwar. Hahaha….
Apa yang disampaikan pak haji ini barangkali benar. Ia tampaknya ingin mengkritisi orang-orang yang telah mendapat nikmat lebih namun terkungkung oleh kenikmatan tersebut. “bikin hidup lebih hidup” yang menjadi jargon salah satu merek rokok agaknya mengilhami pernyataannya tersebut. Kawin lagi bukan tujuan yang mau disampaikan karena saya tahu istrinya adalah Umi yang satu itu.
Seringkali kita bersukur tatkala harta kita bertambah. Suami naik pangkat. Anak lulus sekolah dengan nilai yang memuaskan. Mobil ganti baru, rumah rampung direnovasi. Garapan atau penggawean mengalir tanpa henti serta seabrek kenikmatan duniawi yang menyilaukan. Hal ini wajar dan memang harus disukuri. Sering-seringlah bersukur niscaya nikmat yang didapat akan bertambah. Dan jangan sekali-kali kufur (mengingkari nikmat yang diberikan) karna sesungguhnya balasan Allah sangatlah pedih.
Giliran harta yang dimiliki berkurang. Jabatan dan pangkat stagnan. Prestasi anak disekolah mengecewakan. Mobil jangankan ganti baru satu saja tidak ada. Rumahpun demikian sudah bisa ditempati mendingan. Penggawean makin lama kok makin seret dan sepi, kita menjadi sambat, ngresulo seolah-seolah rejeki yang kita terima hanya sedikit. Padahal keadaan seperti ini adalah rejeki yang yang ditimpakan Allah agar kita bisa mawas diri, sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan. Ujungnya kita bisa menjadi pribadi yang tahan banting tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh jaman.
Sebaliknya, bertambahnya harta dan kenikmatan dunia tidak serta merta membahagiakan. Dalam tulisan sebelumnya, gelimangan harta yang dimiliki justru melemparkan saya dalam jurang kesengsaraan. Dikarenakan yang bersangkutan belum siap menerima nikmat yang diberikan serta terlena dibuatnya.
Rejeki apapun bentuknya harus disukuri. Jangan membelenggu diri terhadap rejeki yang tampak mata saja –karena akan mengurangi eksistensi rejeki itu sendiri. Ketabahan, kesabaran, toleransi, gampang menerima kebenaran, niat baik, ketulusan hati adalah sekelumit rejeki yang dikaruniakan Allah. Tidak kelihatan mata memang, namun dalam kehidupan dampaknya LUAR BIASA. Ini juga harus didapat dan disukuri. WA IDZTAADDANA RABBUKUM LAIN SYAKARTUM LA AZIIDANNAKUM WA LAIN KAFARTUM INNA ‘ADZAABI LA SYADIID. WASSALAM, junior 8 april 2011. Selalu ikuti merinagold.blogspot.com
Jumat, 08 April 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan beri komentar