SEJARAH (episode one)
Hidup ada tiga. Masa lalu, masa kini dan masa akan datang. Ini yang dikatakan ulama sufi. Masa lalu adalah sejarah. Ia telah terlewati. Tidak mungkin arah jarum jam berbalik arah. Kalaupun ada itu hanya ada di film –sand of time, The Prince of Persia. Perjalanan hidup yang telah lalu hanya bisa dijadikan referensi dan refleksi akan hidup sekarang dan masa depan.
dalam sebuah artikelnya, almarhum Cak Nur (Nurcholis Majid), menulis bahwa sejarah adalah sebuah laboratorium. Disana adalah hamparan paparan (naratif), penelitian (searching), pengetahuan (knowledge), kesimpulan (konklusif) dan juga hikmah (edukatif). Sejarah akan berulang dan berulang –meski dalam konteks dan situasi yang berbeda.
Lebih lanjut, dalam surat Ar Ruum, dikatakan (terjemahan bebas) akan datang suatu masa dunia Timur akan dikalahkan dunia Barat. Dan kemudian berbalik Timur mengalahkan Barat. Seperti yang ditulis dalam sejarah, sebelum kedatangan islam, dunia terbagi dalam dua blok. Blok timur dikuasai oleh Persia dan blok barat di gawangi oleh imperium Romawi. Dizaman itu baik Persia maupun romawi masih kental dengan perikehidupan bar-bar. Mistis dan khurafat sangat merajalela. Makanya dizaman itu dikenal dengan istilah Dark Middle atau zaman kegelapan.
Ketika islam lahir di jazirah arab, tepatnya di mekkah. Kondisi kehidupan orang-orang disana juga tak jauh beda. Masing-masing suku berseteru memperebutkan pengaruh dan kekuasaan. Pengagungan terhadap keturunan laki-laki sangat dominan. Para ibu yang hamil tua mengalami H2C (harap-harap cemas) khawatir melahirkan anak perempuan yang tidak menutup kemungkinan akan dibunuh bahkan dikubur hidup-hidup oleh bapaknya.
Kondisi ini pelan tapi pasti mulai berubah tatkala islam sudah menyebar dan diakui oleh mayoritas suku disana. Lebih-lebih ketika terjadi apa yang dinamakan Arabic Explotion yaitu ledakan bangsa arab dimana islam telah menyebar keseluruh jazirah arab bahkan semenanjung Andalusia (spanyol). Maka jangan heran bila sampai sekarang banyak ditemui peninggalan islam di spanyol karna islam pernah eksis selama dua abad lebih –lewat kekholifahan Bani Abbasiyah- dibumi Andalusia.
Diperiode itu Persia telah takluk dibawah islam. Peta dunia telah berubah. Islam dianggap ancaman yang siap menerkam bangsa romawi terlebih setelah Andalusia bertekuk lutut dan islam bisa mendirikan kekholifahan disana. Tak lama kemudian pecah perang salib. Perang yang mengatasnamakan agama. Perang ini memakan waktu yang cukup lama. Banyak korban antar kedua belah pihak. Menang dan kalah silih berganti. Pahlawanpun bermunculan, Salahuddin al Ayyubi dipihak islam dan Richard the Lion Hearts dipihak nasrani.
Dipenghujung perang ini islam mengalami kemunduran. Rantai komondo dari pusat ke daerah banyak yang putus dan menjadi longgar. Puncaknya ketika kekholifahan islam runtuh dan menjadi Mulukut Thowaiif yaitu raja-raja kecil. Lewat negosiator raja ferdinant, kekholifahan islam yang telah menjadi mulukut thowaiif ini menandatangani pakta perdamaian. Perjanjian perdamaian yang tak lebih penyerahan diri tanpa syarat inilah yang kelak mengikis habis pengaruh islam dibenua biru eropa.
Sebaliknya dipihak romawi (eropa barat), peristiwa perang salib ini menjadikan mereka menjadi lebih beradab. Baitul makmur (perpustakaan) yang sudah banyak berdiri diwilayah islam, dijadikan bancakan sebagai pampas an perang oleh tentara romawi dan para misionaris mereka. Buku-buku pengetahuan, karya sastra, ilmu falak dan perbintangan, logaritma dan aljabar -yang menjadi cikal bakal ilmu matematika, filsafat, arsitektur sampai kedokteran diboyong dan ditranfer ke negeri eropa barat. Konon dalam subuah hikayat, diceritakan laut merah waktu itu bisa dilewati oleh kuda-kuda tentara romawi dikarenakan laut tersebut menjadi dangkal oleh urukan buku-buku yang tak dibutuhkan oleh tentara romawi.Tak ayal dalam beberapa decade setelah peristiwa perang salib tersebut di wilayah eropa bermunculan ilmuwan-ilmuwan yang berkompeten dibidangnya. Dari benua yang perilakubangsanya terkenal dengan sebutan dark middle beralih menjadi gerakan renaissance dan aufclarung (pencerahan).
Tokoh-tokoh islam macam Al ghezele (Imam Ghozali) dengan salah satu karya filsafatnya “takhafudul falasifah, Al Jabar dengan hitungan matematika dasar, Avenzuur (Ibnu Zuhri) dan Avenroos (Ibnu Rusydi) lewat buku yang berisikan pegobatan atau kedokteran adalah sekelumit tokoh islam yang sedikit banyak mempengaruhi eropa melakukan gerakan renaissance dan aufclarung. Bahkan karya dari Ibnu Rusyd dan Zuhr sampai kini dijadikan pedoman sebagai kode etik kedokteran.
Sampai disini kita bisa melihat kemajuan dan keunggulan dunia eropa juga barat tidak lepas dari pengaruh timur (islam dalam hal ini). Perang salib adalah momentum kebangkitan mereka. Karna pada momentum tersebut dimungkinkan terjadinya assimilasi dan akulturasi budaya dan pengetahuan. Lalu bagaimana dengan kita? Dunia timur? Dengan islam sendiri? Makin hari kok makin terjepit dan stagnan?
Apa perlu kita melalkukan perang salib sebagai momentum guna membalik keadaan? Akan sangat muskil bila kita melakukan tindakan tersebut. Kondisi dunia kini tidak hitam putih seperti zaman para Sahabat dan Para Tabi’iin. Peta dunia sudah kabur tidak bisa dipetakan mana hitam mana putih yang ada hanya abu-abu. Segelintir teman ada yang meyakini cara-cara konfrontir seperti itu. Mereka beranggapan kejayaan masa lalu harus ditegakan. Dalil yang dipakai adalah “ISY KARIMAAN AU MUT SYAHIIDAN” hidup mulia atau mati sahid.
Tidak salah mereka memakai dalil tersebut. Kita memang wajib hidup dengan mulia jika tidak bisa mending mati dengan cara syahid (khusnul khotimah). Penafsiran atau pengertian mati syahid ini barangkali dipahami secara parsial. jihad atau bekerja dijalan Allah tidak melulu mengangkat senjata. Masih banyak pengertian jihad yang tidak ada sangkut pautnya dengan senjata. Pernah rasulullah ditanya oleh seorang ibu yang mempertanyakan keinginannya untuk ikut berjihad dimedan perang guna mengharapkan pahala surge atas jihad yang dilakukan. Apa kata kanjeng nabi, ibu tersebut disuruh pulang sambil menunggu suaminya kembali dan melayaninya dengan baik. Pelayanan seorang istri terhadap suami itu adalah jihad. Dan balasan jihad adalah surge.
Suami yang bekerja menafkahi keluarga adalah jihad. Anak sekolah guna mencapai cita-cita adalah jihad. Pemimpin yang amanah terhadap jabatannya adalah jihad. Masih banyak konteks jihad yang tidak harus dihubungkan dengan perang dan pertumpahan darah. Seringkali kita lalai himpitan hidup yang membuat kita tidak leluasa bergerak, membuat kita potong kompas dan melakukan tindakan pragmatis. Demi melihat ketidak adilan dunia, ketimpangan social ekonomi kita menjadi dendam dan ingin melalukan tindakan destruktif terhadap apa yang kita dendami. Ujung-ujungnya bom meledak…..Bukankah ini adalah wujud kekerdilan kita? Kita tidak bisa menyaingi bahkan mengungguli mereka? Kalau toh aksi kekerasan itu terjadi, siapa yang terutama menjadi korban? Orang-orang kita juga –bisa jadi seakidah. Kalau bangunan runtuh, percayalah dengan kekuatan ekonomi yang mereka miliki bangunan tersebut akan dengan cepat berdiri dan bertambah megah.
Akan lebih bijak bila kita mengesampingkan tindakan destruktif. Kita bisa mulai belajar dari kekurangan kita sambil mempelajari apa yang menjadi keunggulan mereka. Lihatlah cara kerja orang yahudi –suatu bangsa yang pernah dipuja oleh Allah sebagai bangsa yang unggul namun dicampakan karena kesombongan mereka- . populasi bangsa ini tidak banyak , kepemilikan Negara juga masih kontroversi. Namun dalam mewujudkan impiannya mereka tidak mengotori tangan dengan tindakan picisan dan artificial. AS yang merupakan Negara adidaya cukup di congok hidungnya setelah itu apa yang diinginkan mereka AS tinggal mengiyakan lengkap dengan infra dn supra srtuktur yang ada. Hasilnya…..
Lihat saja kondisi negara2 timur yang mayoritas islam. Iraq yang merupakan pusat peradaban islam -101 malam- kini telah porak-poranda. Mesir juga begitu setelah dihantam gelombang massa demo kini belum jelas kemana arahnya. Belum reda mesir gentian Libya dikoyak dan dibombardir pasukan sekutu. Sebentar lagi menyusul Suriah. Negeri Hafeed al Asad ini tidak lama lagi mengikuti jejak mesir. Arab Saudi? Ealaahh… ternyata negeri petro dolar ini melempem dan impoten. Agaknya AS tidak memerlukan pasukan multinasional untuk merubuhkan kerajaan emir ini namun cukup mengirimkan keping DVD lewat budaya Hollywood dan menggerojok dolar sebagai kompensasi tambang minyak.
Iran bagaimana? Menurut sejarah negeri ini adalah warisan dari Persia yang pernah menguasai separuh belahan dunia. Artinya sejarah bisa saja berulang. Setelah revolusi iran beberapa puluh tahun lalu, yang ditandai dengan tumbangnya rezim Reza Pahlevi yang sekuler , agaknya iran menunjukkan pergerakan kearah positif. Hal ini bisa diperkuat dengan sosok pemimpinnya. Selain para spiritual Mullah, Ahmadinejad adalah sosok yang bersahaja dan tegas pendirian. Letak geografis, sumber daya alam dan manusia sangat menunjang kearah pencapaian masa lalu.
Kita tidak perlu terlalu berharap pada iran. Seperti dulu kita juga pernah berharap pada Iraq lewat kepemimpinan Saddam Hussein yang berani lantang melakukan perlawanan pada AS. Namun barangkali kita bisa merenungi maqolah yang disampaikan pemimpin spiritual mereka, Ayatullah Khomeini : AKU SUNGGUH-SUNGGUH BERHARAP SUATU SAAT REVOLUSI MANUSIA MENCAPAI PUNCAKNYA. DIMANA IA AKAN MENGGANTIKAN SENJATA DENGAN PENA. SEBAB DALAM SEJARAHNYA PENA BISA MELAYANI MANUSIA SEDANGKAN SENJATA TIDAK.
BERSAMBUNG………..
WASSALAM, junior 21 april 2011. Selalu kunjungi www.merinagold.blogspot.com.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan beri komentar