Jumat, 25 Maret 2011

GABUS TENGGELAM BATU BETERBANGAN

GABUS TENGGELAM BATU BETERBANGAN
Beberapa hari ini media hiburan (baca : infotainment) kita menayangkan berita mantan petinggi negeri ini. sosok pejabat yang dikenal “kalem dan santun” tersebut hampir tiap hari nongol di televisi. Dialah Moerdiono, mensesneg era orde baru. Ironisnya berita seputar dirinya bukanlah mengenai prestasi dan kiprahnya selama menjadi pejabat teras negeri ini, melainkan polemik rumah tangganya. Publik serasa terhenyak menyaksikan drama kehidupan mantan salah satu orang berpengaruh di pemerintahan Pak Harto ini.
Di usianya yang senja dan terbaring lemas dalam pengawasan paramedic Pak Moer –biasa dipanggil- masih sempat melayangkan gugatan cerai kepada isteri pertamanya. Isteri pertama??... ya… adalah Poppy Dharsono, selebriti yang mengaku telah dinikahi secara sah pada tahun 1997 disebut-sebut sebagai peretak rumah tangga Pak Moer. Polemik ini terus bergulir, masing-masing pihak mengeluakan argument guna mendukung pembenarannya masing-masing. Kita selaku pemirsa hanya menyaksikan sampai kemana drama ini akan berujung….
Belum tuntas masalah Moerdiono, muncul lagi berita hangat mengenai “kerabat jauhnya”. Kali ini menimpah cicit dari mendiang penguasa nomer wahid Indonesia. Putri , anak pasangan Ari Sigit dan isteri pertamanya Maya Firanti Noor, kesandung kasus narkoba. Rumornya, putri diringkus aparat , saat melakukan pesta sabu-sabu bersama para perwira TNI. (wow.. keren).
Mengapa berita-berita diatas sering ditayang dan gampang menular? Padahal di jamannya EYANG KAKUNG berita seperti ini adalah tabu. Sesuatu yang harus ditutup2i, tidak boleh diekspos apalagi berulang-ulang –istilahnya mikul duwur mendem njero. Mengapa pula berita-berita seperti ini menimpa pada figur yang seharusnya menjadi contoh dan teladan?
Lihatlah, tokoh sekaliber Pak Moer, yang dimasa jayanya jika menginginkan sesuatu cukup dengan menudingkan jari, yang katabelecenya sangat sakti membuat yang lain begidik –seolah-olah Kun FayakunNya telah terpegang. Kini terbaring lemas dengan selang medis menghiasi tubuh ditambah polemik keluarga yang seharusnya tidak menghampiri dimasa tua. Logikanya, seseorang dengan pencapaian seperti itu, -dimasa uzurnya- hatinya makin tawaddu’ keharibaan rabb sambil sesekali menikmati hidup dengan kebal-kebul rokok’an ditepi pantai nan elok bersama keluarga. Kan enak…hala..agak’e kepengen tapi gak iso…
Begitupula putri. Kita tahu dia adalah cicit sang mesem. Cucu sang bento. Kalian tahu bento? Dengarkan sair berikut, : “namaku bento. Rumah real estate. Mobilku banyak harta melimpah. Orang memanggilku bos eksekutif. Tokoh papan atas, atas segalanya..asik. wajahku ganteng banyak simpanan sekali lirik oke sajalah. Bisnisku menjagal jagal apasaja yang penting aku menang aku senang persetan orang susah karena aku yang penting asik..sekali lagi asik. Khotbah soal moral omong keadilan maling kelas teri bandit kelas coro itukan tong sampah. Siapa mau berguru sebut namaku 3 kali bento…bento…bento…”
Adigung adiguno. Sopo siro sopo ingsung adalah sifat hakiki Allah swt (Al Mutakabbir). Manusia tidak diperkenankan memilikinya. Bahkan jika ada seberat dzarrah takabur atau sombong dalam hatinya dijamin tidak masuk surga. Nah ngerti ah… medeni yo…
Apa yang sekarang ada besok bisa tidak ada. Sebaliknya, apa yang sekarang tiada besok bisa ada. Apa yang kita kita tanam itu yang kita panen. Jangan pesimis dan jangan gampang gumun atau terkesima. Ini adalah rahasia ilahi yang sedikit dibeberkan pada kita. Seorang kawan bilang, “hari-hari ini adalah saatnya gabus2 tenggelam, batu-batu beterbangan. Berhati-hatilah”. Wallahu’alam bi showaab. WASSALAM, junior 25 maret 2011. Jangan lupa selalu kunjungi merinagold.blogspot.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan beri komentar