UNTUK SEBUAH NAMA
Sampai huruf pertama ini diketik, perasaan saya masih ingin tertawa. Betapa tidak, tulisan berikut melulu mengenai diri dan keluarga, namun ingin saya bagi bersama (sharing). Dari pemberian nama anak sampai pergumulan kami –maaf bukan porno- selaku pasutri akan menghiasi paragraf demi paragraf dalam tulisan ini. Semoga para pembaca –jika ada- tidak dibuat boring dan menganggap narsis gitu loo…mumpung ide sudah terpegang, sekalian saja jemari menari diatas keyboard. Sukur-sukur ada yang terinspirasi. (dorong2 wes narsis).
Anak kami dua. Yang pertama bernama MUHAMAD ZAMRONI ABIDIN JUNIOR (persis nama bapaknya minus junior) biasa dipanggil IYONK. Yang kedua bernama MERINA KHUMAIR biasa disapa INA. Tidak sama sih dengan nama ibunya-YUANA-, namun bila dipanjangkan ceritanya bisa saling bertautan. Ketika iyonk lahir banyak orang bertanya, ihwal pertanyaannya seputar pemberian nama. “kok namanya seperti nama bapaknya, apa gak ada lagi nama yang lebih bagus?” begitu barangkali pikir mereka. Saya sih cengar-cengir saja. Bahkan tatkala kakeknya mempertanyakan hal serupa saya malah balik bertanya, “lha apa nama itu kurang bagus, yah? Kan ayah sendiri yang memberi nama pada saya. Ketika nama itu saya wariskan pada cucu kakek, sah-sah saja kan?”. Hehe…kadal di komodoin eit.. komodo di kadalin. Yang benar mana ya…
Kebanyakan orang tua –terutama- laki-laki mengharapkan anak yang pertama lahir adalah anak laki-laki. Hal ini bukan tanpa alasan, Dinegeri yang menganut faham patrialis, seperti Indonesia, anak laki-laki adalah harapan dan tumpuhan. Ia diharapkan bisa menjadi penerus orang tua. Maaf, bukannya anak perempuan tidak bisa mengemban amanat tersebut, tapi perasaan tidak bisa dipungkiri. Contoh paling remeh adalah ketika sigadis ini beranjak dewasa dan sudah saatnya menikah. Si kecil yang dulu oleh bapaknya digendong seperti lagunya mbah Surip, kelak akan “digendong” oleh orang lain. Pada saat bersamaan nama yang disandang sudah bukan nama bapaknya melainkan nama suaminya. Nanti jika melahirkan, nama yang di pakai sang cucu bukan nama bapak si ibu,tetapi nama keluarga menantu si Bapak. Kacian deh..bapak.
Saya sendiri tidak memungkiri kenyataan ini. Ketika memberikan nama pada anak laki-laki pertama, saya dedikasikan kepada orang tua yang telah -memberikan nama yang baik- membesarkan dan mendidik saya dengan benar. Dedikasi yang kedua, ditujukan pada diri saya –selaku orang tua jabang bayi- dengan harapan saya bisa meneruskan langkah orang tua (baca:mengasuh,membesarkan dan mendidik) sang bayi. Disamping tujuan substansif dalam pemberian nama tersebut, ada juga tujuan yang sifatnya heboh semata.
Di tempat kita jarang lho orang tua yang memberikan nama ngeplek sama antara bapak dan anak. Paling-paling yang diambil nama depan atau belakangnya saja. Contoh, Sukarbadi, sukaryati atau sukartini. Dinamai demikian karna nama bapaknya adalah Sukar –tanpa 141. Atau Annisa Arifin, Afrizal Arifin karna nama bapaknya Samsul Arifin, misalnya. Di Arab, orang-orang disana jika memanggil nama seseorang, cukup dengan memanggil nama bapaknya, yaa…ibnu Umar… wahai anaknya Umar, bisa jadi yang dipanggil itu nama aslinya Paidi atau Paitun. Di AS, nama-nama besar yang melekat pada seseorang umumnya adalah gelar yang disematkan atas ketokohan ayahnya. John-john junior adalah anak mendiang presiden AS, John Fitzgerald Kennedy. Floyd Mayweather Junior –petinju yang pernah di proyeksikan bertarung dengan Manny Pacquiao sebagai mega duel “BATTLE of THE CENTURY” namun gagal- adalah anak Floyd Mayweather Senior.
Alasan ndakik lainnya adalah saya ingin membentuk TRAH. Pada saatnya nanti, juniorlah yang akan meneruskan nama bapaknya. Dialah yang berhak mewariskan nama MUHAMAD ZAMRONI ABIDIN JUNIOR II pada anak laki-lakinya. Begitu seterusnya dan seterusnya… simpelnya, garis keturunan tersebut akan tampak kelihatan. Jika dikomparasikan dengan kerajaan, anak turun junior adalah garis keturunan raja-raja –bukan lembu peteng. Haha… narsis bukan? Ya iyyalah…namanya juga pengharapan.
Bagaimana dengan Ina,-adik junior?. Pada saat dia dikeluarkan, (Ina dilahirkan lewat operasi ceasar lantaran posisi janin kala itu melintang) saya melihat bayi yang gemuk dan lucu. Saya pandangi otot-otot pipinya yang tampak jelas berwarna kemerah-merahan, persis warna otot pipi ibunya. Pikiran saya kala itu menerawang jauh dan berhenti pada sebuah dialek tatkala Rasulullah saw memanggil Siti A’isyah dengan panggilan kesayangan, “Yaa.. Khumairah….Wahai yang kemerah-merahan”. Jadilah panggilan kesayangan rasullulah tersebut menjadi nama belakang anak kami yang kedua.
Justru pemberian nama depan yang sedikit kocak. Jika merujuk pada pemberian nama anak pertama yang persis nama bapak, tentu akan adil jika anak kedua punya nama yang sama dengan nama sang ibu. Muncullah kemudian nama MERINA KHUMAIR yang artinya MERY yang kemerah-merahan. Klop sudah…kok bisa? Nama ibunya kan YUANA? Samanya dimana?
Dimasa pacaran dulu, saya sering mengejek nama isteri yang terlalu simple dan pendek. Batinku jeneng kok sak emprit atek ndeso pisan… yuana…gak uenaak ngono lho olehe nak kuping. Pantes2nya nama itu kan terdiri dari 2-3 kata biar enak didengar dan keren. Akhirnya, setuju tidak setuju didepan nama yuana saya tambahi MERY, menjadi MERYUANA. Persis nama tanaman illegal yang memabukkan. Dan memang sekali saya merasakan kehangatannya saya langsung dibuat mabuk kepingin lagi dan lagi….hahaha….KEMPRO!!. sampai sekarang orang-orang memanggilnya mery, jarang yang memanggil yuana, kecuali kerabat dekat. Sampai disini klop kan? Jadi, sebagai seorang suami, saya telah berbuat adil meski dalam hal pemberian nama anak.
Begitulah, Merina Khumair lahir sebagai perwujudan cinta kasih saya terhadap yuana. Ia adalah fakta hidup sanjungan dan dambaan seorang suami terhadap isteri. “Merina yang kemerah-merahan” kelak engkau akan dipanggil oleh suamimu, seperti rasullulah memanggil isteri beliau. Ini adalah doa seorang bapak pada anak gadisnya. Tiada kebahagiaan dan keindahan jika dicintai. Tiada kerugiaan dan kehampaan bila mencintai. Sebab cinta (khubb) adalah hakikat. WASSALAM, junior 29 maret 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan beri komentar